Bandempo

rating

Salah satu artefak dari band-band generasi emas Insititut Kesenian Jakarta, dirilis ulang dalam bentuk piringan hitam. Musik Bandempo, menjadi lestari.Secara sepintas, band ini dan karyanya sangat mungkin terlupakan tergilas waktu. Padahal, ia spesial. Album satu-satunya ini, mungkin tidak b..

  • Rp. 375,000,-
  • Ex Tax:Rp. 375,000,-
  • Product Code:ELE-021v
  • Reward Points:700
  • Availability:In Stock

Tags: Vinyl

Salah satu artefak dari band-band generasi emas Insititut Kesenian Jakarta, dirilis ulang dalam bentuk piringan hitam. Musik Bandempo, menjadi lestari.

Secara sepintas, band ini dan karyanya sangat mungkin terlupakan tergilas waktu. Padahal, ia spesial. Album satu-satunya ini, mungkin tidak berdurasi panjang; hanya berisi delapan lagu dengan waktu putar yang hanya sekitar dua puluh lima. Tapi ia merekam betapa bergeloranya scene musik IKJ di akhir 90-an.

Alasan kenapa mungkin terlupakan, sederhana: Ketersediaan rekamannya tidak banyak. Plus, bandnya juga tidak aktif, kendati tidak pernah membubarkan diri.

Di satu-satunya album yang pernah dihasilkan Bandempo ini, segelondongan ciri khas yang dikandung oleh scene musik IKJ di akhir 90-an itu, terpapar. Lagu-lagunya mengalun tanpa kontrol, menerabas banyak pakem-pakem kebiasaan industri musik 90-an. Mereka juga seenaknya membangun komposisi lagu. Di dalamnya juga berserakan banyak elemen keberanian untuk menjadi diri sendiri, melakukan apa yang disuka.

Udara yang mereka hirup di kampus seni itu, memberi pengaruh yang sangat kental. Kemerdekaan eksplorasi menjadi napas penting di album ini.

Vokalis Anggun Priambodo menulis banyak absurditas yang terdengar abadi; yang masih kontekstual berbelas tahun kemudian. Saya yakin, kalau punya sesi ngobrol berdua dengannya dan membahas album ini, pasti kita bisa mendapatkan makna tersurat yang tersirat lewat pilihan katanya yang sangat sulit ditebak.

Untuk hal yang paling sederhana pun, cinta yang kalah, Bandempo bisa bertutur dengan cara yang menarik. Di lagu PDKT 6 Bulan, balada orang yang tidak menang bisa tersaji dengan perpaduan yang penuh penyamaran; bass line yang konstan menjaga benteng bercampur dengan kocokan gitar sumir di belakang, sementara suara vokal berteriak penuh derita. Sebenarnya begitu, tapi yang terdengar adalah alunan nada yang kocak, sedikit menggelitik walaupun setelah dua menit aura gelapnya mulai tersadar melalui lirik yang pelan-pelan menempel.

Lagu favorit saya di rekaman ini, Berlayar, juga spesial. Lagi-lagi ada bass line berjalan yang dipadu dengan dua aransemen gitar yang bermain dengan gaya berbeda; satu distorsi, satu melodi. Sangat khas 90-an. Tapi, ditubruk dengan harmoni vokal. Ada elemen masa lalu, tapi dicampur dengan masa kini. Walaupun kalau didengarkan sekarang, terasa secara keseluruhan bahwa lagu ini berasal dari masa lalu. Yang jadi masa kini di tahun 1999, periode waktu di mana album ini direkam, tentu juga sudah sama-sama menjadi masa lalu untuk orang yang membaca review ini sekarang.

Perpaduan tidak serasi Berlayar, secara pribadi, berhasil bertahan belasan tahun di dalam hidup saya. Secara reguler, ia terus dimainkan lewat koneksi mp3 yang terserak di satu sudut hidup digital saya. Saya tidak memiliki versi kasetnya, hanya memiliki cd yang dirilis tahun 2003. Setidaknya, tiga belas tahun sudah ia mengisi hidup. Bukan main-main.

Track absurd Kereta Lewat juga perlu diulas. Sebagai penutup, ia berfungsi menjadi puncak. Setelah perjalanan gado-gado rasa dengan tujuh track sebelumnya, lagu ini menjadi titik kulminasi liar Bandempo. Dengan lirik sebaris yang diulang berkali-kali, ia berhasil mengikat. Memberi penutup yang selalu diingat.

Beberapa lagu yang juga bagus adalah Nonton Srimulat, Bukan Propaganda dan Permen Tukaran. Enam dari delapan lagu yang enak, sudah membuat album ini punya status bagus.

Lalu, beberapa bulan yang lalu, ada upaya untuk membuat album ini tetap lestari. Label asal Jakarta, Elevation Records, merilis ulang album ini dalam bentuk piringan hitam. Covernya beda, dihiasi oleh liner notes dari dua orang saksi hidup Bandempo, Harlan Boer dan Indra Ameng.

Setidaknya, musik mereka terus menyala dalam memori dan bisa diakses oleh publik luas. Bagaimapun juga, musik bagus selalu harus dihidupkan dan dirayakan bersama.

Artikel ini ditulis oleh Felix Dass dan pernah dimuat di portal online qubicle.id pada bulan Oktober 2016.

Write a review

Note: HTML is not translated!
    Bad           Good