This Album Could Be Your Life: Album Musik Indonesia Terbaik 1955-2015

rating

This Album Could Be Your Life: 50 Album Musik Indonesia Terbaik 1955-2015 bisa menjadi penanda zaman.

Pertama dalam soal waktu terbit. Ketika industri buku merosot sebagai dampak pandemi Covid-19, Elevation Books malah mengeluarkan buku 50 Album Musik Terbaik 1955-2015 mulai pekan ini. Dengan kertas mewah ditambah foto-foto penuh warna, buku setebal 328 halaman ini punya tempat berbeda dengan buku-buku lainnya yang terbit belakangan. Buku tersebut dibanderol Rp 235 ribu untuk harga normal.

Meski demikian, preorder 150 buku ini ludes terpesan. Padahal, hasil survei Ikatan Penerbit Indonesia menyebut, penjualan 58,2 persen penerbit anjlok lebih dari 50 persen akibat pandemi.

Buku 50 Album Musik Terbaik Indonesia ini pun beredar tepat dengan rilisnya data pertumbuhan ekonomi kuartal II 2020 minus 5,32 persen. Ancaman resesi disebut-sebut mengancam. Jangankan beli buku, untuk memenuhi kebutuhan pokok pun daya beli masyarakat kurang.

Belum lagi generasi zaman now saat ini lebih suka baca HP ketimbang buku. Segala informasi dapat dengan mudah didapat lewat internet. Sebuah proyek nekat untuk menerbitkan buku babon macam ini.

Tak hanya waktu penerbitan, isi buku menjadi penanda zaman. Ketika penggila rilisan musik sudah biasa dengan daftar 150 Album Indonesia Terbaik versi majalah Rolling Stone Indonesia edisi November 2008, buku rilisan Elevation Books ini menyuguhkan ranking yang beda. Badai Pasti Berlalu yang bercokol di puncak tangga album terbaik versi Rolling Stone Indonesia dilengserkan ke peringkat kelima dalam buku 50 Album Musik Terbaik Indonesia.

Buku ini juga memberi tempat untuk album musisi yang menurut para juri hampir terlupakan. Ada album Langkah Pertama dari Igor Tamerlan, album self-titled Semakbelukar, album self-titled Bandempo dll yang masuk di dalamnya.

"Memang ada semacam affirmative action untuk memberikan tempat yang lebih proporsional terhadap band band dan musisi-musisi independen dan underdog, yang tidak hanya meramu album-album bermutu namun juga menanamkan pengaruh yang begitu dalam," tulis rilis dari Elevation Book. (tempo.co)

Jakarta
Author : Elevation Book
  • Rp. 235,000,-
  • Ex Tax:Rp. 235,000,-

Tags: #musicbooks #indonesianrecord

This Album Could Be Your Life: 50 Album Musik Indonesia Terbaik 1955-2015 bisa menjadi penanda zaman.

Pertama dalam soal waktu terbit. Ketika industri buku merosot sebagai dampak pandemi Covid-19, Elevation Books malah mengeluarkan buku 50 Album Musik Terbaik 1955-2015 mulai pekan ini. Dengan kertas mewah ditambah foto-foto penuh warna, buku setebal 328 halaman ini punya tempat berbeda dengan buku-buku lainnya yang terbit belakangan. Buku tersebut dibanderol Rp 235 ribu untuk harga normal.

Meski demikian, preorder 150 buku ini ludes terpesan. Padahal, hasil survei Ikatan Penerbit Indonesia menyebut, penjualan 58,2 persen penerbit anjlok lebih dari 50 persen akibat pandemi.

Buku 50 Album Musik Terbaik Indonesia ini pun beredar tepat dengan rilisnya data pertumbuhan ekonomi kuartal II 2020 minus 5,32 persen. Ancaman resesi disebut-sebut mengancam. Jangankan beli buku, untuk memenuhi kebutuhan pokok pun daya beli masyarakat kurang.

Belum lagi generasi zaman now saat ini lebih suka baca HP ketimbang buku. Segala informasi dapat dengan mudah didapat lewat internet. Sebuah proyek nekat untuk menerbitkan buku babon macam ini.

Tak hanya waktu penerbitan, isi buku menjadi penanda zaman. Ketika penggila rilisan musik sudah biasa dengan daftar 150 Album Indonesia Terbaik versi majalah Rolling Stone Indonesia edisi November 2008, buku rilisan Elevation Books ini menyuguhkan ranking yang beda. Badai Pasti Berlalu yang bercokol di puncak tangga album terbaik versi Rolling Stone Indonesia dilengserkan ke peringkat kelima dalam buku 50 Album Musik Terbaik Indonesia.

Buku ini juga memberi tempat untuk album musisi yang menurut para juri hampir terlupakan. Ada album Langkah Pertama dari Igor Tamerlan, album self-titled Semakbelukar, album self-titled Bandempo dll yang masuk di dalamnya.

"Memang ada semacam affirmative action untuk memberikan tempat yang lebih proporsional terhadap band band dan musisi-musisi independen dan underdog, yang tidak hanya meramu album-album bermutu namun juga menanamkan pengaruh yang begitu dalam," tulis rilis dari Elevation Book. (tempo.co)

Write a review

Note: HTML is not translated!
    Bad           Good